Kaspersky: Data Pribadi 40% Konsumen di Asia Pasifik Diretas

Kaspersky Privacy
Kaspersky Privacy

thePONSEL.com – Laporan Kaspersky Global Privacy Report 2020 mengungkapkan bahwa 40% konsumen di Asia Pasifik (APAC) menghadapi insiden kebocoran informasi pribadi yang diakses oleh orang lain tanpa persetujuan. Data tersebut juga mengungkap, 5 dari 10 pengguna online menyatakan kendala yang sama.

Beberapa pelanggaran melibatkan insiden berupa akun yang diakses tanpa izin (40%), pengambil-alihan perangkat secara ilegal (39%), pencurian dan penggunaan data rahasia (31%), data pribadi yang diakses oleh seseorang tanpa persetujuan, dan penyebaran informasi pribadi secara publik (20%).

Ironisnya, penelitian yang sama menemukan bahwa lebih dari seperlima pengguna masih dengan sukarela membagikan privasi mereka untuk mendapatkan produk atau layanan secara gratis. Sebanyak 24% responden lainnya juga lalai dalam menjaga privasi dengan membagikan detail akun media sosial untuk kuis hiburan, seperti  apakah jenis bunga atau selebriti yang mirip dengan mereka. Selain itu, dua dari sepuluh konsumen yang disurvei juga mengakui bahwa mereka membutuhkan bantuan untuk mempelajari bagaimana cara melindungi privasi secara online.

“Data kami menunjukkan perilaku online yang cukup kompleks di wilayah kita. Ini sesungguhnya merupakan kemajuan yang disambut baik dimana sebagian besar konsumen sekarang cukup memahami privasi online, tetapi kebiasaan virtual dan pengetahuan keamanan mereka masih membutuhkan perubahan,” komentar Stephan Neumeier, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky.

Ketika ditanya mengenai konsekuensi yang mereka temui setelah pelanggaran privasi, para pengguna online menyebutkan beberapa hal negatif yang memengaruhi kehidupan digital dan bahkan fisik mereka. Sebagian besar (39%) terganggu oleh spam dan iklan, sebagian (33%) merasa stres, dan sebagian (24%) menyatakan reputasi pribadi mereka dalam bahaya.

Dalam persentase yang sama, sebanyak 19% pengguna telah menyinggung seseorang, kehilangan uang, dan terintimidasi. Pemerasan juga dialami oleh 16% pengguna di Asia Pasifik, hubungan keluarga lekuk (15%), beberapa mengalami kerusakan karir (14%) hingga pemutusan ikatan romantis atau mengalami perceraian (10%).

“Para pelaku kejahatan siber cenderung mengikuti arah kekacauan berada. Kapan pun terdapat sebuah tren atau krisis besar, mereka akan menggunakannya sebagai kesempatan sempurna untuk mengeksploitasi peningkatan emosi manusia yang membuat pengguna lebih rentan. Untuk melindungi diri Anda selama masa kritis ini, penting untuk berhati-hati akan rincian pribadi yang Anda bagikan secara online dan memahami bagaimana data ini akan digunakan. Kunjungi kembali pengaturan privasi dan aturlah sesuai dengan kebutuhan Anda. Internet adalah ruang berisi berbagai kesempatan dan siapa pun dapat memperoleh manfaat darinya, selama kita tahu bagaimana mengelola data dan kebiasaan online secara cerdas,” tambah Neumeier.

Untuk memastikan informasi pribadi Anda tetap terlindungi di ruang internet, Kaspersky menyarankan para konsumen untuk:

  • Menyimpan seluruh daftar akun online sehingga Anda memiliki pemahaman penuh tentang layanan dan situs web mana yang mungkin menyimpan informasi pribadi Anda
  • Mulai gunakan “Privacy Checker” yang membantu mempertimbangkan pengaturan profil media sosial Anda menjadi pribadi. Ini akan mempersulit pihak ketiga untuk menemukan informasi yang sangat pribadi
  • Untuk mengidentifikasi permintaan mencurigakan yang dibuat oleh aplikasi, dan memahami risiko terkait dengan berbagai jenis izin umum, Anda dapat mempertimbangkan untuk melakukan instalasi Kaspersky Security Cloud. Produk ini juga dilengkapi fitur “Do Not Track (Jangan Lacak)” untuk mencegah pemuatan elemen pelacakan yang memantau tindakan Anda di situs web dan mengumpulkan informasi tentang Anda
  • Untuk bisnis, edukasikan kepada karyawan mengenai dasar-dasar keamanan siber. Misalnya, tidak membuka atau menyimpan file dari email atau situs web yang tidak dikenal karena dapat membahayakan seluruh perusahaan, atau tidak menggunakan detail pribadi apa pun dalam kata sandi mereka. Untuk memastikan kata sandi kuat, staf tidak boleh menggunakan nama, tanggal lahir, alamat jalan dan informasi pribadi lainnya.
  • Secara teratur mengingatkan staf tentang cara menangani data sensitif, misalnya, hanya menyimpannya di layanan cloud tepercaya yang perlu diautentikasi untuk akses dan tidak boleh dibagikan dengan pihak ketiga yang tidak dipercaya
Share this:
Subscribe
Notify of
guest

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments